Our Articles

Ask no WHY but HOW

Written by Mariani Ng Posted in Mariani Ng on Friday, 08 August 2014.

Ask no WHY but HOW

Pak Beka berseru dengan semangat dalam rapat, tentang betapa pentingnya kesatuan visi. Tentang betapa pentingnya semangat tinggi dalam mencapai visi misi perusahaan, tentang betapa tidak kompaknya divisi sales dan accounting selama ini. Divisi sales telah berusaha menjaga hubungan baik dengan pelanggan, tetapi pihak accounting telah merusak hubungan itu dengan begitu saja menagih tanpa sungkan. Divisi sales telah berusaha mati-matian untuk mencapai target sales, tetapi pihak accounting lagi-lagi menahan pengiriman barang karena pelanggan masih menunggak hutang. Dan beberapa bukti nyata terus dilontarkan mulai dari pelanggan A sampai Z yang terkena dampak serupa. Tidak lupa, di setiap akhir kalimat selalu diikuti dengan seruan ‘iya’kan?’ sambil melirik pada teman-teman sedivisi – minta persetujuan.

 

Rekan-rekan sedivisi-pun tidak kalah seru, memberi tambahan data-data lain yang seiring dengan seruan Pak Beka tadi, semangat untuk kesatuan visi. Di sudut sana, beberapa orang yang mewakili divisi accounting tampak resah, ada beberapa yang berkali-kali menunjukkan ekspresi tidak senang di wajahnya. Bu Citra bahkan tampak ingin menyela tapi kemudian menahan diri sambil melihat ke arah Pak Robert, pimpinan perusahaan yang dari tadi hanya berdiam diri saja.

Pak Beka dan rekan-rekan terus mengutarakan ketidakpuasan mereka atas tindakan dan keputusan yang dilakukan divisi accounting terhadap pelanggan mereka, setiap orang mendapat gilirannya untuk mengeluarkan pendapat dan saling menimpali. Mereka terus menyatakan kekecewaan mereka atas keputusan dan tindakan dari pihak accounting yang banyak membuat pelanggan mereka putus hubungan. Beberapa saat kemudian mereka terdiam, setelah menyadari bahwa Pak Robert sama sekali tidak bersuara walau dari divisi accounting terlihat ingin membalas mereka.

 

Ruangan hening, semua mata berpindah memandang Pak Robert di ujung meja. Yang dipandang manggut-manggut seakan memahami apa yang mereka ributkan tadi. 

‘Saya pahami apa yang terjadi dan bagaimana perasaan anda sebagai sales’, katanya mulai bersuara.

‘Terima kasih atas semangat Pak Beka tadi. Saya setuju sekali bahwa kita perlu kesatuan visi di perusahaan ini’.

Pak Beka tersipu-sipu merasa dipuji.

 

‘Di sisi lain, saya juga pahami apa yang dilakukan oleh pihak accounting’.

‘Sebenarnya, tidak ada yang salah atau benar dalam hal ini. Masing-masing telah menjalankan tugas dengan baik’.

‘Sales bertugas menjalin hubungan baik dengan pelanggan, menjual sebanyak-banyaknya agar omzet penjualan meningkat’.

‘Accounting bertugas untuk menjaga keamanan finansial di perusahaan ini. Tentu juga sangat menjaga pelanggan mana yang komitmen bayar tepat waktu dan mana yang tidak’.

‘Dua-duanya bertujuan baik dan ingin menjalankan tugas dengan baik’.

Semua terdiam sambil melihat satu sama lain.

‘Setuju?’, lanjut Pak Robert sambil melihat satu per satu.

Yang dipandang tampak mengangguk. Pak Beka ikut memperhatikan betapa satu per satu rekan-rekannya sedivisi ikut mengangguk tanda setuju. Ketika mata Pak Robert menatap Pak Beka, yang dipandang mendadak gugup.

 

‘Daripada kita saling menyalahkan, mari kita cari solusi bagaimana agar tujuan masing-masing tercapai tanpa saling merugikan’, ucap Pak Robert sambil kembali memandang Pak Beka.

 

Pak Beka mengangguk kaku.

Dalam hati dia sibuk menebak kemana arah pembicaraan Pak Robert. Solusi?

‘Jadi, menurutmu, Pak Beka. Apa yang perlu kita lakukan agar hal ini tidak terjadi?’, lanjut Pak Robert sambil menatap kembali pada Pak Beka.

 

Yang dipandang terkesiap diam. Sama sekali belum pernah dia pikirkan apa solusinya agar hal ini tidak terjadi. Selama ini dia hanya berpikir tentang permasalahan ini, tentang bagaimana mencari penyebab terganggunya hubungan baik dengan pelanggan, mencari siapa yang melakukan, dan menyalahkan. Harapannya adalah agar yang disalahkan tahu dan mau memperbaiki, agar yang bersangkutan tidak lagi mengganggu mereka, sales, yang sudah berusaha menjalin hubungan dengan pelanggan sebaik mungkin. Bahwa mereka telah menjalankan tugas dengan baik, bahwa kalau target tidak tercapai bukan sepenuhnya salah mereka, tapi karena ada campur tangan dari divisi accounting.

 

Dipandanginya rekan-rekan sedivisi, semua ikut berdiam diri, memandangnya dengan penuh harap agar ada jawaban yang keluar darinya. Tapi tidak ada.

 

‘Sekali lagi, saya ingin tegaskan bahwa saya paham sekali atas apa yang terjadi di sini dan apa yang dirasakan oleh masing-masing dari kita. Tapi, daripada kita terus berpikir tentang sumber masalah dan saling menyalahkan, bukankah lebih baik kita berpikir apa solusinya?’, lanjut Pak Robert kembali.

 

‘Mari kita coba memandang dari kacamata orang lain, sales melihat dari kacamata accounting, accounting melihat dari kacamata sales – tidak ada yang perlu disalahkan. Karena itu tidak akan membantu, sama sekali tidak membangun semangat apalagi kesatuan visi tadi’.

 

Suasana hening mencekam.

‘Mari kita mulai membangun bersama semangat ini, melalui kesatuan visi melihat apa solusinya, bagaimana yang terbaik agar tujuan masing-masing pihak tercapai tapi tidak saling merugikan’.

 

Semua mengangguk setuju.

Memang, bukankah lebih baik kita mencari bagaimana menangani permasalahan daripada mencari siapa penyebabnya? Bukankah lebih baik bertanya BAGAIMANA daripada MENGAPA?

 

About the Author

Mariani Ng

Mariani Ng

She is a Founder of PT. METAMIND Tata Cendekia and the first woman in ASIA who is certified and licensed trainer of  NLP – NS trainings to provide International Certification of Meta-NLP Practitioner, International Certification of Master Practitioner.

Click here for detail

Why METAMIND?  read