Our Articles

Saya Sudah Tahu (1)

Written by Mariani Ng Posted in Mariani Ng on Sunday, 15 June 2014.

Saya Sudah Tahu (1)

"Saya sudah tahu .. tapi saya lupa"

 

Hahaha .. bukankah itu kalimat ter-'sexy' yg pernah kita dengar? Yang bisa bikin kita geram, gemes dan sekaligus juga geli menghadapinya? 

 

'Saya sudah tahu', memang kalimat yang paling menarik buat saya belakangan ini.  Entah karena saya terlalu serius menanggapinya hingga jadi bodoh, atau memang terlalu bodoh hingga serius menanggapinya.

 

Ketika memberi training pada level senior manager di suatu perusahaan, beberapa peserta tampak cuek sambil menyiratkan bahwa 'saya sudah tahu'. Saat istirahat, ada peserta menghampiri memberitahu bahwa dia sudah tahu beberapa point yang dibahas tadi. 

 

Ketika saya menjadi peserta di salah satu seminar, saat si pembicara sedang serius menjelaskan sesuatu mendadak muncul suara 'saya sudah tahu maksud Bapak' .. dan Bapak pembicara di depan tampak salah tingkah menerimanya.

 

Dan kalimat yang sama juga sering saya dengar di beberapa forum terbuka. Ada yang mengucapkan dengan nada datar seakan tidak tertarik, ada yang dengan nada kalem seakan sudah tahu dengan amat sangat dan berharap lanjut lebih cepat lagi, ada pula yang mengucapkan dengan suara tinggi seakan takut tidak terdengar oleh orang lain bahwa dia sudah tahu. Bahkan, ada yang mengucapkannya dengan lantang sambil melirik kanan kiri mencari pendukung.

 

Dalam suatu event dimana pembicaranya adalah seorang anak muda, seorang peserta separuh baya tiba-tiba mengucapkan 'saya sudah tahu apa yang Bapak maksud. Bisa segera lanjut dengan yang lain, Pak?' .. dan wajah pembicara berubah merah lalu pucat pias. Saya meringis dalam hati. Sedih melihat sikap Bapak tadi. Memang apa yang barusan disampaikan anak muda tadi bersifat sangat umum, tapi bukan berarti cukup bijak untuk dikritisi demikian. Benar bahwa ini adalah tanda si pembicara belum berhasil membangun 'trust' dengan (seluruh) peserta. Benar bahwa ini adalah feedback peserta tidak lagi tertarik dengan apa yang disampaikan oleh pembicara, tapi apakah bijak untuk disampaikan di depan forum begini?

 

Apa efek dari kata 'saya sudah tahu' yang disampaikan di tengah forum demikian?

  1. Sikap diri yang kurang apresiasi orang lain. Maksud hati ingin ekspresikan diri bahwa diri kita sudah tahu, namun tanpa sadar justru menunjukkan kurangnya apresiasi terhadap pembicara. Paling tidak, apresiasi bahwa yg bersangkutan sudah menyampaikan dan 'refresh' kembali apa yang sudah pernah kita ketahui sebelumnya.
  2. Provokasi orang lain untuk menyuarakan yang sama, yang pada akhirnya malah mengacaukan suasana.
  3. Menghambat pengembangan diri sendiri. Ketika saya berkata 'sudah tahu', itu menunjukkan bahwa saya telah membandingkan dengan parameter tertentu yg telah pernah saya ketahui. Ketika dianggap sama, saya langsung menganggap 'saya sudah tahu, selesai' tanpa melihat dari sudut pandang lain. Stop. That's it. Close.

 

Padahal, ada banyak hal yang bisa kita kembangkan lebih dari itu.

  1. Refresh kembali atas apa yang pernah kita tahu sebelumnya.
  2. Melihat dari sudut pandang yang berbeda atas suatu hal yang sama.
  3. Belajar menerima dan bersabar mendengarkan hal-hal yang sudah kita tahu sebelumnya.
  4. Belajar menghargai dan nikmati kepuasan dari orang yang memberitahu karena dia mengira kita belum tahu. 

 

Bukankah itu menyenangkan?

 

Teringat hari pertama kerja saat saya lulus SMA dulu. Senior saya mengajarkan bahwa 'dengarkan apa yg disampaikan rekan kerja lain dengan baik. Bila tidak jelas, tanyakan lagi sampai kamu jelas dan paham. Tapi bila sudah tahu, jangan potong di tengah dan bilang kamu sudah tahu. Karena nanti dia akan stop ngajarin kamu. Alhasil kamu tidak lagi belajar apa-apa'.

 

And it's really true.

 

Karena ketika kita merasa sudah tahu, sebenarnya masih banyak yang kita tidak tahu. Justru ketika kita merasa tidak tahu, banyak pula yang kita tahu sebenarnya. Hidup bukan hanya tentang parameter apa yang kita sudah tahu dan belum tahu, hidup adalah esensi ketika berada di antara keduanya.

 

Medio, Juni 2014

 

About the Author

Mariani Ng

Mariani Ng

She is a Founder of PT. METAMIND Tata Cendekia and the first woman in ASIA who is certified and licensed trainer of  NLP – NS trainings to provide International Certification of Meta-NLP Practitioner, International Certification of Master Practitioner.

Click here for detail

Why METAMIND?  read