Refleksi Self-Actualization #6

Written by L. Michael Hall, Ph.D Posted in L. Michael Hall, Ph.D. on Friday, 09 June 2023.

Refleksi Self-Actualization #6

BAGAIMANA MASLOW MELEWATKAN MAKNA
(HOW MASLOW MISSED MEANING)


Jadi pada tahun 1940-an, Maslow memulai satu dari proyek awal awal (bisa jadi ini adalah project yang paling pertama) dalam memodelling para ahli. Tujuan Maslow pada saat itu adalah memodel aktualisasi diri dan kemudian proses dari aktualisasi diri itu sendiri. Untuk melakukannya, beliau mulai mengidentifikasi fitur-fitur dan kualitas-kualitas orang-orang yang sedang beraktualisasi diri dan kemudian mulai memilih orang-orang (yang masih hidup dan yang sudah meninggal) yang memenuhi kualifikasi-kualifikasi tersebut. Saat melakukannya, beliau juga harus membangun teori tentang apa yang memotivasi orang-orang ini dan bagaimana kehidupan dan tingkat motivasi mereka bisa berbeda dari orang-orang yang sedang tidak mengaktualisasikan potensinya, yaitu orang orang yang hidup pada tingkat seperti hidup di hutan, yaitu level kebutuhan dasar.

Dalam proses ini, Maslow mengumpulkan "kebutuhan (needs), dorongan (drives), insting (instinctions), tujuan (goals), dan sebagainya,” yang mendorong dan memotivasi orang-orang, lalu ia mulai mengklasifikasikannya. Dari situlah muncul wawasannya yang kreatif, yang membedakan antara kebutuhan-kebutuhan yang lebih rendah dan lebih tinggi. Ia menyebut kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi sebagai meta-kebutuhan (meta-needs). Bahkan, ia menggunakan kata "meta" secara melimpah pada tahun 1940-an, dan mungkin bersamaan dengan Bateson, beliau merupakan orang pertama yang menggunakan istilah tersebut. Ia berbicara tentang meta-nilai (meta values), meta-patologi (meta pathologis), meta-pembayaran (meta pay), dan sebagainya. [Tentu saja yang saya tidak tahu adalah siapa yang pertama kali mulai menggunakan istilah tersebut. Tentu saja, melihat pekerjaannya dengan Ruth Benedict dan kemudian korespondensinya dengan Margaret Mead, ia lalu menemukan dan bertemu dengan Gregory Bateson, jadi siapa yang mempengaruhi siapa dalam penggunaan istilah tersebut?]

Dari sinilah muncul satu-satunya "model" yang kita miliki dari Maslow dan upaya pionirnya dalam Psikologi Aktualisasi Diri (Self-Actualization Psychology), yaitu Hierarchy of Needs (Piramida Kebutuhan). Dan, model sederhana ini sangat berguna dan penuh wawasan sehingga dengan sangat cepat (maksud saya adalah bener benar sangat cepat) mulai menyebar ke dalam psikologi, pengembangan diri, manajemen, kepemimpinan, komunikasi, motivasi, pembelajaran, pendidikan, dan sebagainya.

Psikologi sebelum Maslow, telah berada dalam Perang akan Insting (The War of Instincts). Ini dimulai sekitar awal abad ke-20 dan berlanjut selama beberapa dekade. Setiap psikolog dan teoretikus berusaha mengidentifikasi insting primer (the primary instinct), insting kunci, induk dari semua insting, dalam upaya mereka untuk memahami dan menciptakan teori tentang sifat manusia: Apakah itu seks, agresi, ketakutan, harga diri, cinta, makanan, kematian, makna, dan sebagainya? Salah satu buku teks psikologi yang saya baca mengatakan bahwa lebih dari 137 "insting" telah diidentifikasi.

Apa yang dilakukan Maslow di tengah kebingungan tersebut adalah menawarkan sebuah model yang menggabungkan semua insting, atau dorongan, atau kebutuhan manusia, dan menyediakan mekanisme penggabungan. Dan ia menyusunnya bersama dalam sebuah format yang menunjukkan keunggulan kebutuhan-kebutuhan yang lebih rendah (lower needs), yang menjelaskan mengapa kita merasakan kebutuhan tersebut dengan sangat kuat dan menjelaskan mengapa mereka sangat berbasis biologis.

Kita mengalami kemiripan dengan binatang dalam kebutuhan-kebutuhan kita yang lebih rendah untuk bertahan hidup (makanan, air, udara, seks, tempat tinggal, kehangatan, dll.) dalam hal bahwa kebutuhan-kebutuhan ini sangat kuat dan mendorong. Perbedaan utamanya adalah sementara binatang memiliki program bawaan (innate program) untuk mengetahui apa yang akan memenuhi kebutuhan mereka dan bahkan bagaimana memenuhi kebutuhan mereka, kita tidak. Kita memiliki dorongan dan kebutuhan, tetapi tanpa konten informasi. Kita tidak memiliki program seperti mereka. Maslow mengatakan bahwa kita hanya memiliki "instinctoids".

Hal ini menjadi semakin benar saat kita naik ke tingkat-tingkat yang lebih tinggi (higher needs). Ketika kebutuhan akan keamanan dan perlindungan mendorong kita, ketika kebutuhan sosial untuk cinta dan kasih sayang, ketika kebutuhan diri mendorong kita untuk merasa penting, unik, istimewa, dan dihargai. Bagaimana kita memuaskan dorongan-dorongan dalam diri ini? Apa yang akan memuaskannya?

Maslow dengan bijak mengenali sifat alamiah kekurangan (deficiency) sebagai mekanisme penggerak dalam kebutuhan-kebutuhan yang lebih rendah. Ketika kita tidak memiliki kebutuhan tersebut, kita merasakan perasaan kekurangan (lack) yang kuat. Kita merasa putus asa. Kita menginginkan. Kita membutuhkan. Namun, sesuatu yang aneh terjadi saat kita memuaskan kebutuhan tersebut. Dorongan itu menghilang! Poof! Ia menguap. Tiba-tiba, kita tidak lagi lapar, kedinginan, tidak aman, dll. Bahkan, memuaskan kebutuhan tersebut tidak hanya membuat dorongan menghilang sehingga kita tidak menginginkannya lagi, tetapi kita biasanya bahkan lupa seberapa besar dorongan itu sebelumnya. Maslow menyebut ini sebagai "melupakan pasca-pemuasan" (post-gratification forgetting).

Jika kebutuhan yang lebih rendah atau kekurangan muncul dari biologi kita dan menjelaskan hubungan kita dengan binatang, maka kebutuhan yang lebih tinggilah yang membedakan kita dari mereka. Dengan mengumpulkan semua kebutuhan lainnya, kebutuhan-kebutuhan yang membuat kita secara unik manusia, Maslow menciptakan kategori kebutuhan yang lebih tinggi (higher needs). Di sinilah kita menginginkan makna, tujuan, arah, niat, keindahan, keteraturan, kontribusi, kebenaran, dan semua kebutuhan-keinginan-insting yang terkait dengan ‘spirit” kita dan kekurangan dalam hal ini membuat kita merasa “dis-spirited” dan pemenuhannya membuat kita merasa “in-spirited”.

Kebutuhan-kebutuhan ini tidak beroperasi berdasarkan kekurangan (deficiency). Kita bisa hidup tanpanya. Ketika kita kekurangan mereka, kita tidak putus asa seperti saat kita kekurangan kebutuhan-kebutuhan bertahan hidup. Namun, sesuatu selain kematian terjadi tanpa kebutuhan-kebutuhan ini. Tanpa mereka, mengutip Thoreau , kita cenderung menjalani "kehidupan yang tenang dalam keputusasaan" (quiet lives of desperation). Tidak ada rasa lega setelah pemenuhan (post -gratification relief). Memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi ini bukannya membuatnya menghilang, malah membuat kebutuhan-kebutuhan tersebut menjadi lebih kuat! Kita kemudian menginginkannya lebih banyak. Kemudian, kita juga mengembangkan kapasitas yang lebih besar untuknya. Dalam hal ini, tidak ada batasan dalam memperoleh kebenaran, keindahan, makna, kontribusi, dll.

Ketika kita hidup pada tingkat meta-kebutuhan (meta need) dan meta-nilai (meta – values), maka kita hidup dengan cara yang sangat berbeda. Ini adalah dunia kelimpahan bukan kekurangan. Ini adalah dunia unik manusia yang melibatkan pertumbuhan dan ekspresi diri, bukan hanya berusaha untuk mendapatkan. Maslow berjuang selama beberapa dekade untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan tempat istimewa ini. Ini adalah tempat "Keberadaan" (being) dan dengan demikian kita kehilangan motivasi untuk mencoba melakukan atau mencapai sesuatu karena kita menjadi ekspresif. Nilai dari pengalaman itu adalah pengalaman itu sendiri, oleh karena itu "tanpa - tujuan". Ini adalah tempat untuk mengaktualisasi diri, menjadi lebih dan lebih menjadi apa yang bisa kita jadi, dan merupakan tempat "pengalaman puncak" (peak experience).

Namun, dalam semua ini, Maslow melewatkan sesuatu. Meskipun ia menyebutkan maknaebagai salah satu meta-kebutuhan (meta-needs) kita, ia melewatkan peran lain dari makna (meaning) dan penciptaan makna (meaning making) yang beroperasi dalam kepribadian manusia. Dan ini adalah persis apa yang kami tambahkan dalam Neuro-Semantics ke seluruh studi dan penelitian tentang Self-Actualization.

Maslow melewatkan peran penciptaan makna (meaning making) dan atribusi makna (meaning attributiion) yang menyeimbangkan dan mengatur pengalaman kita terhadap kebutuhan kita. Memang, sebenarnya beliau sudah cukup dekat. Misalnya, beliau menyadari bahwa hierarki kebutuhan bukanlah hierarki yang ketat. Beliau menyadari dan berbicara tentang bagaimana setiap kebutuhan dapat menjadi begitu penting sehingga dapat mendominasi semua kebutuhan lainnya. Beliau bertanya-tanya mengapa beberapa kebutuhan bisa menjadi begitu tidak penting, sehingga mereka gagal mendorong kita sama sekali. Tetapi beliau tidak mengidentifikasi mekanisme dari makna sebagai mekanisme yang membuat perbedaan.

Kegagalan untuk mengenali ini berarti bahwa Maslow tidak melihat bagaimana makna yang kita ciptakan dalam pikiran kita kemudian menyusun keseluruhan sistem pikiran-tubuh kita sebagai kerangka penarik (atrractor frame) yang menciptakan proses yang memenuhi dirinya sendiri (self-fulfiling process). Namun sekarang bahwa kita tahu itu, kita dapat memperkenalkan pemahaman dan gambaran yang lebih sistemik ke dalam piramida hierarki statis yang lama dari Maslow. Terhadap piramida statis dan kaku ini, kita dapat menambahkan lingkaran umpan balik informasi untuk menunjukkan bagaimana makna mempengaruhi pengalaman kita terhadap kebutuhan kita.

Adalah konstruksi makna (meaning-construction) kita yang melalui kesadaran refleksi diri (self-reflexive consciousness) sehingga memungkinkan kita untuk menambahkan lapisan demi lapisan makna pada pengalaman kita yang menggambarkan "insting" manusia tertinggi dan paling kritis. Kita bahas lebih banyak tentang hal itu setelah ini.

 

 



Ditulis oleh : L. Michael Hall, Ph.D. (Co-founder of Neurosemantics)
Diterjemahkan secara bebas oleh Denny Ang (Neurosemantics Trainer) atas seijin penulis

About the Author

L. Michael Hall, Ph.D

L. Michael Hall, Ph.D

As an author, Dr. Hall is known as a prolific writer with 30 some books to his name, more than 100 published articles and is recognized as a leading NLP Trainer and developer of many models, most notably the revolutionary Meta-States model and more recently the Matrix model. In 1996, Michael co-founded with Dr. Bob Bodenhamer Neuro-Semantics® as a field of study and as an International Society.

Why METAMIND?  read