Refleksi Self-Actualization #7

Written by L. Michael Hall, Ph.D Posted in L. Michael Hall, Ph.D. on Monday, 19 June 2023.

Refleksi Self-Actualization #7

MENGAKTUALISASI MASLOW DENGAN NEURO-SEMANTIK
(ACTUALIZING MASLOW WITH NEURO-SEMANTICS)


Pada Refleksi terakhir (#6), saya menjelaskan model Maslow untuk Psikologi Self-Actualization, pembeda kritis yang dia buat antara kebutuhan yang lebih rendah dan yang lebih tinggi, dan bagaimana dia luput akan makna. Dalam hal ini, Maslow tidak cukup kognitif dalam pendekatannya. Meskipun beliau teman baik Adler namun memasukkan beberapa psikologi Adlerian bukan pendekatannya serta beberapa antropologi kognitif Benedict dan Meade (dan Bateson) juga bukan pendekatannya, dan meskipun Maslow menemukan Korzybski dan bahkan berbicara di salah satu Konferensi Internasional tentang Semantik Umum (General Semantics) di Meksiko dan mengutipnya tentang "peta bukan wilayah," Maslow melewatkan peran penciptaan makna (meaning making role) dan karena itu tidak menggabungkannya ke dalam modelnya atau pemahaman tentang self-actualization. Dan itulah kesenjangan (gap) ini yang kita, dalam Neuro-Semantik, tujukan saat kita menggabungkannya ke dalam model-model terbaru kita tentang Self- Actualization untuk memperluas karya pionir Maslow.

Ini sekarang memungkinkan kita menjelaskan mengapa kebutuhan yang lebih rendah kita memiliki tingkat plastisitas tertentu di dalamnya sehingga kita dapat menolaknya, mengabaikannya, mengarahkannya (subliminate), dan bahkan mengubahnya sedemikian rupa sehingga kita mengalaminya sebagai kebutuhan yang berlebihan atau kebutuhan yang tidak ada.

Ambil contoh sesuatu yang dasar seperti makanan. Sebagai kebutuhan dasar, tubuh kita membutuhkan dan mutlak memerlukan nutrisi. Namun, apa yang kita gunakan sebagai "makanan" (atau mencoba digunakan sebagai makanan), harus kita pelajari sendiri; ini bukanlah sesuatu yang diberikan. Juga, ketika kita menggunakan pikiran kita untuk memberikan makna (attribute meaning) pada makanan dan tentang makanan, kita dapat memberikan beban semantik yang berlebihan (over-load food semantically) pada makanan sehingga makanan memiliki makna yang terlalu penting bagi kita. Kita dapat secara semantik membingkai makanan sebagai penghargaan, menjadi baik, sukses, kehidupan yang baik, cinta, kemenangan, sosialitas, dll. Melakukan hal ini memungkinkan kita untuk makan secara psikologis (psycho eat), yaitu, makan karena alasan psikologis. Kemudian kita dapat makan untuk penghargaan dan cinta, untuk membuktikan bahwa kita memiliki kesuksesan, untuk mengurangi stres, dll.

Sebaliknya, kita dapat memberikan makna negatif pada makanan dan menciptakan fenomena yang benar-benar berbeda. Kita dapat melihat makanan sebagai berbahaya, membuat gemuk, tidak terkendali, mengancam femininitas, dll. Melakukan ini dapat menyebabkan gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia. Jadi, kita tidak makan karena alasan atau makna psikologis.

Bahkan kehidupan, bertahan hidup, tidak mati dapat dikalahkan oleh makna. Jika tidak, kita tidak akan memiliki bunuh diri atau martir. Faktanya, semua "kebutuhan" dapat dikalahkan, diubah, dan diubah oleh makna. Makna yang kita berikan dan atributkan pada kebutuhan yang lebih rendah kita mengatur bagaimana kita mengalami kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Jantungnya dari masalah dalam urusan manusia adalah makna. Jadi kita bertanya, "Apa artinya bagi Anda?" Dan apa pun itu artinya, itulah yang ada bagi orang tersebut dalam sistem pikiran-tubuh orang tersebut. Dia atau dia akan merasakan makna tersebut, mengalami makna tersebut, mempersepsikan makna tersebut, dll.

Bagi kita dalam Neuro-Semantik, model Meta-States memediasi struktur dinamis dari makna. Saat kita berpikir-dan-merasakan (think and feel) secara reflektif tentang konstruksi kita, kita membentuk tingkatan makna yang tinggi dan lebih tinggi. Dengan demikian, kita sekarang dapat mengambil model Hierarchy of Needs Maslow ke tingkat pengembangan yang lebih tinggi. Kita menambahkan atribut makna (meaning attribution) pada piramida. Di atas hierarki statis, kita sekarang melampirkan pusaran berputar akan penciptaan makna (meaning creation). Apa yang terjadi ketika kita melakukan ini? Kami mengubah piramida yang statis dan kaku sehingga menjadi gambar dinamis tentang bagaimana lapisan-lapisan makna kita mempengaruhi, memberi informasi, dan mengatur kebutuhan dasar kita.

Anda masih dapat melihat salah satu cara pertama saya mencoba bekerja dengan hierarki kebutuhan Maslow. Itu ada dalam artikel di situs web tentang Self-Actualization. Pada saat itu, pemikiran saya adalah untuk memikirkan wajah-wajah (sudut pandang) berbeda dari piramida sebagai  tahapan tahapan perkembangan yang berbeda saat pembentukan makna (meaning-making) kita berkembang dari sekadar mengalami kebutuhan kita, menjadi mengembangkan mekanisme penanganan (coping mechanism) untuk menangani kebutuhan kita, hingga akhirnya menguasai (mastering) dorongan dorongan kita.

Pengembangan yang lebih terkini beralih dari representasi wajah-wajah yang berbeda menjadi merepresentasikan lingkaran komunikasi (communication loop) akan pelapisan makna di dalam piramida. Dimulai dengan spiral makna (meaning spiral) di dalamnya, kita menggambarkan kebutuhan self-actualization tertinggi (untuk tahu, untuk memesan, untuk menciptakan keindahan, dll.) yang meledak dari puncak piramida. Ketika Anda membayangkan piramida, membuka di bagian atas, lihat kebutuhan yang lebih tinggi menjelajah seperti kembang api.

Lihat kebutuhan yang lebih tinggi melesat ke berbagai arah dan mengungkapkan sebuah piramida berputar terbalik yang tidak terlihat (an inverse invinsible spiraling pyramid) di atasnya. Spiral makna ini mewakili kesadaran diri-reflektif kita yang melapis level demi level makna dan kemudian berputar ke bawah untuk memberi informasi dan mengatur kebutuhan kita. Kita masih memiliki hierarki, tetapi sekarang menjadi holoarki. Sekarang kita dapat mewakili baik kebutuhan biologis maupun pembentukan makna kognitif-konatif yang secara khas membedakan kesadaran manusia.

Tapi, Itu hanya satu cara kita telah mulai memperluas dan memperpanjang karya Maslow. Kuadran Aktualisasi Diri (Self Actualization Quadrant) contoh yang lainnya. Dibangun dari dua sumbu kembar Makna dan Performa (Meaning and Performance), Kuadran ini mengungkapkan jalur menuju zona aktualisasi diri (Self-Actualization), zona aliran (the flow zone). Itu, pada kenyataannya, muncul saat kita mengintegrasikan dan mensintesiskan makna dan performa terbaik kita.

Apa yang ditawarkan oleh model-model ini adalah cara untuk mengaktualisasikan Maslow dan pengembangan pionirnya dalam Psikologi Self-Actualization. Sejak kematiannya, 36 tahun yang lalu (1970), model Maslow dan gagasannya tentang self-actualization tetap stagnan dan, sebagian besar, tidak dapat digunakan. Ya, hal tersebut merupakan kemajuan pionir (awal) saat beliau memungkinkan kita untuk mengenali perbedaan antara kebutuhan yang lebih rendah dan kebutuhan yang lebih tinggi. Namun, Hirearki Kebutuhan (Hierarchy of Needs) semacam itu tidak menawarkan aplikasi praktis. Apa yang bisa kita lakukan dengannya? Masalahnya adalah bahwa sebagai metafora, hal itu terlalu statis dan kaku sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan sesuatu dengannya.

Namun, karena sistem pikiran-tubuh-emosi kita dinamis dan selalu berubah, dan beroperasi dalam lapisan keluarga, bahasa, dan budaya yang berinteraksi dengan orang lain, kemudian untuk memahami dorongan, kebutuhan, dan motivasi kita, dan bekerja dengan hal hal tersebut,
untuk memfasilitasi aktualisasi diri (self-actualization), kita membutuhkan model sistemik tentang makna yang dinamis dan fleksibel. Untuk itu, sebagian besarnya saya telah menerapkan model Meta-States dan sekali lagi menemukan bahwa hal itu memungkinkan kita untuk memperluas karya Maslow untuk menghasilkan Holoarki Kebutuhan (Holoarchy of Needs) yang memungkinkan kita mengenali peran psiko-logika (psycho-logic) kita, tingkatan logis yang fleksibel dari meta-states kita, dan bagaimana semuanya itu menciptakan Matriks Self-
Actualization kita.

Apa intinya? Sekarang kita dapat memfasilitasi pelepasan potensi (unleashing potential) dengan lebih efisien. Dan itu mengarah pada Workshop Ultimate Self-Actualization: Construct, Crucible, dan Zone yang segera hadir di Institute of Neuro-Semantics terdekat dengan Anda!





Ditulis oleh : L. Michael Hall, Ph.D. (Co-founder of Neurosemantics)
Diterjemahkan secara bebas oleh Denny Ang (Neurosemantics Trainer) atas seijin penulis.

About the Author

L. Michael Hall, Ph.D

L. Michael Hall, Ph.D

As an author, Dr. Hall is known as a prolific writer with 30 some books to his name, more than 100 published articles and is recognized as a leading NLP Trainer and developer of many models, most notably the revolutionary Meta-States model and more recently the Matrix model. In 1996, Michael co-founded with Dr. Bob Bodenhamer Neuro-Semantics® as a field of study and as an International Society.

Why METAMIND?  read